![]() |
| Ilustrasi |
PESISIR BARAT —
Bagi Pak Romli dan istrinya, sudut bangunan SMPN 14 Krui, Kecamatan Pesisir Selatan bukan sekadar tempat bekerja. Bertahun-tahun lamanya, tempat itu adalah rumah, gantungan hidup, sekaligus tempat mereka menyandarkan masa depan. Kami, 30 Juli 2026.
Saban pagi, sebelum derap langkah siswa memenuhi koridor, Pak Romli sudah merapikan halaman sekolah. Sementara sang istri bergelut dengan wajan dan kompor di kantin kecil mereka, menyiapkan jajanan untuk para murid.
Namun, pengabdian bertahun-tahun itu runtuh dalam sekejap. Tanpa alasan yang jelas, pasangan suami istri (pasutri) penjaga sekolah ini mendadak diberhentikan. Mereka dipaksa angkat kaki dari area sekolah yang telah lama mereka rawat.
Saat ditanya mengenai alasan di balik keputusan drastis tersebut, Kepala Sekolah SMPN 14 Krui, Kemala Jaiti, memberikan jawaban yang sangat singkat dan dingin: "penyegaran".
Sebuah kata yang terasa begitu menyayat bagi keluarga yang tak lagi punya tempat bernaung.
"Pak Romli itu kalau selesai bersih-bersih, dia cari tambahan uang kerja serabutan. Istrinya dagang di kantin itulah," ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Pak Romli, angkat kaki dari sekolah berarti kehilangan segalanya. Mereka tak memiliki rumah pribadi, tak punya lahan untuk digarap, dan tak memiliki mata pencaharian lain.
"Maafnya Bang, sawah sepetak aja gak ada mereka. Sekarang terpaksa numpang di rumah mertua," tambah warga tersebut dengan nada prihatin.
Keresahan di Balik Tembok Sekolah
Langkah kontroversial kepala sekolah ternyata tak berhenti pada pemecatan penjaga sekolah. Atmosfer di SMPN 14 Krui kian memanas seiring bergulirnya proyek revitalisasi sekolah bernilai lebih dari Rp1 miliar.
Secara mengejutkan, sekitar sepuluh pekerja bangunan lokal yang berasal dari warga sekitar mendadak dihentikan dari pekerjaannya. Posisi mereka digantikan oleh pekerja dari luar daerah Pesisir Barat.
"Jadi sekitar sepuluh tukang orang sini pada dipecat sama dia semua," ungkap warga.
Sebelumnya, warga dan tenaga pengajar sempat menaruh harapan besar. Kasak-kusuk mengenai kepindahan sang kepala sekolah sempat merebak dan diyakini akan terealisasi dalam hitungan hari lewat Surat Keputusan (SK) mutasi.
Namun, harapan itu pupus. Isu kepindahan yang berembus mendadak mentah, dan masa jabatan kepala sekolah dikabarkan berlanjut di tengah jalannya proyek bernilai fantastis tersebut.
Kini, di balik megahnya proyek revitalisasi miliaran rupiah, tersisa nestapa Pak Romli dan istrinya.
Pasutri yang dulu setia menjaga gerbang sekolah itu kini harus menata kembali puing-puing hidup mereka—berharap ada keadilan yang menyapa dari dinginnya kata 'penyegaran',ujarnya.
